Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur menyarankan perlunya tes keperawanan bagi wanita untuk calon siswa yang masuk sekolah. Tes keperawanan bagi wanita itu yang dicek apanya?
Berita Terkait
Bagaimana Pertahankan keperawanan bagi wanita, ini Caranya!
Bagaimana Pertahankan keperawanan bagi wanita, ini Caranya!
Soal Tes keperawanan bagi wanita, Lihat Positifnya
Soal Tes keperawanan bagi wanita, Lihat Positifnya
Sebenarnya, tes keperawanan bagi wanita bisa dilihat dengan kasat mata oleh dokter dengan melihat organ vital sang wanita. Jika terjadi koyakan atau trauma maka bekas koyakan itu bisa menyimpulkan apakah perawan atau tidak.
Berita Terkait
Bagaimana Pertahankan keperawanan bagi wanita, ini Caranya!
Bagaimana Pertahankan keperawanan bagi wanita, ini Caranya!
Soal Tes keperawanan bagi wanita, Lihat Positifnya
Soal Tes keperawanan bagi wanita, Lihat Positifnya
Sebenarnya, tes keperawanan bagi wanita bisa dilihat dengan kasat mata oleh dokter dengan melihat organ vital sang wanita. Jika terjadi koyakan atau trauma maka bekas koyakan itu bisa menyimpulkan apakah perawan atau tidak.
Namun kesimpulannya tidak sedangkal itu dengan hanya menyimpulkan bekas koyakan. Jadi harus ditelusuri lagi apakah koyakan itu terjadi karena hubungan seksual atau trauma benda atau luka lainnya.
Menurut Ginekolog Klinik Yasmin RSCM dan RS Hermina Jatinegara, dr. R. Muharam, SpOG, keperawan wanita hilang jika selaput daranya mengalami luka koyakan. Baik itu karena hubungan seks atau masturbasi dengan bantuan benda-benda keras. Dan luka koyakan yang dialami wanita karena bercinta atau akibat trauma akan terlihat berbeda.
"Kalau itu koyakan karena hubungan seksual biasanya koyak sampai dasar vagina. Kalau luka trauma itu nggak seperti itu," kata dr Muharam saat dihubungi Liputan6.com, Jakarta, Selasa (20/8/2013).
Untuk tes keperawanan bagi wanita tersebut, lanjut Muharam, dokter harus mendapat surat perintah dari polisi atau institusi yang membutuhkannya.
"Itu kan hak asasi, jadi si orangnya, orang tua, harus mengizinkannya. Karena efeknya bisa kemana-mana," kata dr Muharam.
Selama ini, lanjut dr Muharam, untuk mengetes keperawanan bagi wanita bisa dilihat luka koyakan yang baru terjadi. Namun, koyakan akan sulit dilihat jika sudah lama terjadi.
"Kalau luka baru-baru bisa, tapi keseringan malah susah dilihat. Ukurannya jadi kacau," kata dr Muharam.
Ketika memberikan kesimpulan, menurut dr Muharam, dokter juga tak boleh berasumsi. "Kesimpulan nggak boleh masuk penis, tapi benda keras. Nggak boleh berasumsi," jelasnya.
(Mel/*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar